Rabu, 19 Maret 2014
Kamis, 06 Februari 2014
BIOGRAFI Fr Stefanus Kobesi, Alm.
BIOGRAFI
Fr
Stefanus Kobesi, Alm.
Lentera Telah Redup
Sudah jauh ia terbang
Sambil membawa lentera yang terang
benderang
Sejenak langkahnya terhenti menyaksikan liukan
cendrawasih
Sempat menimba petuah
Namun, ia redup bersama akhir
matahari
Noemuti,
tempat dimana ia dilahirkan. Kampung yang “subur panggilan” di pelosok pulau
Timor, Kabupaten Timor Tengah Utara. Dua puluh satu tahun lebih satu bulan yang
lalu, tepat 28 Desember 1992, seorang bayi laki-laki, berhidung mancung,
berambut keriting, kulit bening bersih, lahir dalam kebahagiaan dua pasangan
Bapak Agustinus Kobesi dan Ibu Rita Kosat. Rasanya kebahagiaan itu menjadi
sempurna setelah gaung kelahiran Putera Allah pada perayaan Natal
dikumandangkan.
Entah apa gerangan yang menggerakkan pasangan itu,
sehingga bayi mungil ini kemudian diberi nama, Stefanus Kobesi. Nama Stefanus
yang disandang, terinspirasi dari nama seorang martir pertama dalam sejarah
kekristenan, sementara Kobesi, merupakan identitas menurut garis keturunan ayah.
Dua makna besar tersemat dalam identitas dirinya; identitas seorang tokoh
terkenal dalam Gereja Katolik dan identitas garis keturunan. Efen, sapaan
akrabnya merupakan putera kedua setelah Sirilus Antoin Kobesi. Kebahagiaan
keluarga semakin lengkap dengan kelahiran anak perempuan bungsu yang diberi
nama Frederika Roswita Kobesi.
Jejak Juang
Penanaman budaya hidup religius mendapat porsi yang
cukup istimewa. Tentunya disertai suatu harapan bahwa nilai hidup tersebut
menjadi kompas untuk menemukan kesejatian hidup di dalam Tuhan. Oleh sebab itu,
lembaga pendidikan katolik menjadi pilihan untuk memulai menapaki perjuangan
hidup. Ketika menginjak usia 4 tahun 6 bulan, orang tuanya dengan penuh harap memasukkannya
ke TK Sta. Maria Immaculata Niki-Niki, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS).
Setelah dinyatakan berhasil, pada 1997 anak yang dikenal pering ini diterima di
SD Yaswari Niki-Niki, suatu lembaga pendidikan katolik yang dikelola oleh
Keuskupan Agung Kupang. Pendidikan berlanjut di SMP St. Aloysius Niki-Niki dari tahun 2004 hingga 2006.
Setelah sekian lamanya, ia mengenyam pendidikan
dasar di TTS, terbersitlah niat untuk melanjutkan pendidikan di tempat yang
baru. Stefanus secara mengejutkan memutuskan untuk melanjutkan pendidikan
sebagai seorang calon imam. Anak yang akrab disapa steko di antara teman seasramanya ini memilih sekolah pembinaan
calon imam di Kota Karang, Kota Kupang Seminari Menengah St. Rafael Oepoi,
mengikuti jejak kakak Sirilus Kobesi yang lebih setahun ada di sana. Selama
dalam proses pembinaan, ia telah dihadapkan dengan suatu pengalaman pahit.
Sosok ayahnya yang penuh perhatian dipanggil oleh Sang Khalik. Momen tesebut
disatu pihak bisa memudarkan semangat, tetapi dipihak lain memacu dirinya untuk
memberikan yang terbaik kepada anggota keluarga, walau masih dalam proses
perjuangan yang panjang. Akhirnya, atas dasar keputusan dan refleksi
pribadinya, ia memilih Projo Keuskupan Agung Merauke tempat orientasi perjalanan
panggilannya menjadi seorang imam. Pada paruh kedua 2010, bersama sembilan
teman lainnya, mereka mengikuti pembinaan di TOR Lo’o Damian, Atambua.
Berkisah di Bumi Cenderawasih
Sebelumnya, tempat Fr Steko meniti ilmu masih bisa
ditempuh dengan jalan darat. Tetapi konsekuensi atas niat sucinya untuk menjadi
imam, ia berani mengepak sayap ke bumi cenderawasih, Papua. Proses pembentukan
untuk menjadi pribadi yang taat dihadapinya dengan senyum. Keputusan Uskup
Agung Merauke, Nicholaus Adi Seputra MSC agar para calon imamnya ditempa di
Papua, diterima dengan penuh semangat. Lembaga pembinaan calon imam Seminari
Tinggi Interdiosesan ‘Yerusalem Baru’ dan lembaga pendidikan akademik STFT
‘Fajar Timur’ Abepura, Jayapura, merupakan tempat baginya bersama kesembilan
teman lain untuk dipersiapkan menjadi pelayan umat Allah di tanah Papua.
Suatu langkah penuh keberanian telah diambil oleh
sepuluh pemuda, termasuk Stefanus, untuk meninggalkan pulau Timor demi mengejar
panggilan suci di bumi Cenderawasih, Papua. Kenangan 15 Juli 2011 menjadi bahan
cerita yang penuh makna, karena pada waktu itu Fr Steko bersama teman-teman
seangkatan untuk pertama kalinya menginjakkan kaki di tanah Papua setelah melewati
14 hari lamanya di dalam perjalanan. Liukan sayap cenderawasih yang mempesona
membuat sosok Fr Steko selalu tersenyum ketika berhadapan dengan setiap orang
yang dijumpainya. Aroma wangi cendana di tanah Timor menjadikannya sebagai
pribadi yang mudah bergaul, tanpa membeda-bedakan.
Rasanya, pesona cenderawasih yang telah berpadu
dengan aroma cendana memberikan semangat untuk selalu setia menjawabi panggilan
Tuhan. Semuanya tampak dalam kesaksian hidup bersama di Kampus dan Asrama.
Santai tapi pasti, tenang, periang, idealis, sederhana, dan canda berbau logika,
itulah yang selalu menghiasi hidup pergaulannya. Sikap ramah sambil bersenyum
manis, tidak dendam, tidak mudah terbakar emosi, itulah yang membuat dirinya
disenangi di dalam pergaulan.
Lentera Meredup
Pada Minggu, 26 Januari 2014, mahasiswa semester
enam di STFT Fajar Timur ini bersama kedua rekannya memutuskan untuk mengikuti
rekreasi bersama umat Kombas St. Ignasius, Paroki Sang Penebus Sentani di
pantai Amay Jayapura. Ingin sekali rasanya menghilangkan segala kepenatan dalam
dirinya dengan bersenang-senang. Tetapi ternyata semuanya terasa sangat
terbalik. Ia hadir dengan tingkah yang unik, tidak seperti biasanya. Mungkin
saja itu adalah tanda-tanda terakhir penuh pesan yang tak mampu ditanggapi oleh
peserta rekreasi, bahkan kedua rekannya sendiri.
Keceriaan yang ditampakkan tak disangka-sangka akan
menjadi momen terakhir. Secara mengejutkan, ia menghilang dari kebersamaan di
pantai dan tak seorang pun yang tahu arah jejaknya. Tak ada kata yang sempat terucap.
Ia pergi tanpa pesan. Di kala matahari mulai menuju peraduannya, ternyata
lentera hidupnya pun ikut meredup bersama sang waktu. Momen makan siang di
pantai Amay saat itu menjadi momen terakhir baginya. Kepakan sayapnya terhenti
dan tak tahu entah dimana jatuhnya.
Situasi penuh ketakutan segera tampak, ketika
peserta rekreasi tidak menemukan lagi sosok Steko. Berbagai macam usaha mulai
dilakukan, tetapi semuanya nihil. Segenap umat kombas bersama dengan BASARNAS
yang turut dilibatkan dalam pencarian terhadap keberadaan Steko tidak
membuahkan hasil. Di tengah cekamnya suasana itu selalu ada harapan semoga ia
ditemukan kembali dalam keadaan yang utuh. Ternyata dugaan itu salah.
Pada Senin 27 Januari 2014 usaha untuk mendapatkan
sosok Steko terus diperjuangkan. Tepat pukul 09.30 WIT, tim SAR menemukannya
dalam keadaan tak bernyawa lagi, dengan posisi terapung di air laut yang tidak
jauh dari bibir pantai. Isak tangis menjadi tak tertahankan menyaksikan kisah
tragis itu. Lenteranya terpadamkan secara mengerikan. Lembaran hidup ditutup
tanpa bisa diduga oleh manusia.
Penulis Naskah : Fr Gendry Nuga & Fr Hardy
Baslone
Pengedit Naskah : Thino Lonis
NYANYIAN JIWA YANG KELABU
Sobat...
Namun...
Hari
ini jiwa kami berkabut kelabu karena kisah-kisah itu telah menjadi kenangan di
antara duniamu dan duniaku. Senyum, tawa, ocehan, canda logika, dan lantunan
lagu-lagu ‘galau’ yang diiringi petikan gitarmu terus terngiang merdu dalam
benak kami semua yang mencintaimu. Kami sangat menginginkan untuk menghadirkan
kembali bayang-bayang itu dalam sebuah rona bermata pelangi yang senantiasa
saling bertatapan untuk saling berbagi.
Tapi
entalah...
Tuhan
telah menghendaki semuanya untuk menjadi legenda di antara kita. Kami sedih,
kami menangis, kami menyesal, kami kecewa, kami sakit. Jiwa dan raga ini terasa
seakan tersayat sembilu berbaur duka yang mendalam kala hati ini sedang
mengenang dan merindumu. Pedih dan perih memang ketika ‘mawar putih’ nan indah
dan harum mewangi, yang selama ini terpantul dari kedalaman jiwamu telah
berubah menjadi ‘mawar hitam’ berlumur darah. Keindahan dan keharumanmu sirnah
begitu saja ditelan oleh sejuta misteri kematian yang sampai saat ini masih
membersitkan tanya. Sepenggal kalimat yang pernah kau tulis: “kami datang dengan
begitu banyak harapan, ada yang telah melepaskan harapan itu, namun ada juga
yang tetap setia mengejar dan ingin mencapai harapan itu.
SELAMAT
JALAN STEKO, DOA KAMI MENYERTAIMU MENUJU RUMAH BAPA. REST IN PEACE
Penulis Naskah :
Fr Gendry Nuga & Fr Hardy Baslone
Pengedit :
Thino Lonis
Minggu, 02 Februari 2014
Letnan Pierre dan Ketampanannya
Letnan Pierre dan Ketampanannya i
Catatan Must
Prast
editor Jawa Pos
IDOLA REMAJA PUTRI
Bumi Panorama,
itulah sebutan untuk kampus Akademi Teknik Angkatan Darat (Atekad). Pada 1962,
nama kampus tersebut diganti menjadi Akademi Militer Jurusan Teknik (Akmil
Jurtek). Sejak 1963, taruna Akmil Jurtek tingkat satu dan tingkat dua mulai
belajar di Bumi Tidar Magelang, sebutan Akademi Militer Nasional (AMN, kini
Akmil).
Pierre berpose dengan Ade Irma Suryani Nasution, putri Menko
Hankam/KSAB Jenderal A.H. Nasution.
(Foto: kolektormimpi.blogspot.com)
Kini Bumi Panorama di Jalan Hegarmana, Bandung, dikenal sebagai kampus Sekolah Calon
Perwira (Secapa). Namun, kenangan di Bumi Panorama masih membekas di benak para
perwira dan taruna yang pernah bertugas dan belajar di sana pada akhir 1950-an
hingga awal 1960-an. Terutama tentu saja korps kecabangan zeni.
Pierre ditetapkan sebagai pahlawan revolusi pada tahun 1996 .(Foto:
openlibarry.org)
Atekad banyak melahirkan perwira-perwira yang menonjol di
corps zeni (czi). Salah satu yang sangat dikenal adalah Pierre Andreas Tendean.
Pierre lahir di Jakarta
pada 21 Februari 1939. Pierre adalah anak laki-laki satu-satunya di antara tiga
bersaudara. Ie putra dr Tendean, asli Minahasa, sedangkan sang ibu bernama
Cornell M.E. Pierre yang berdarah Prancis.
Karena keturunan blasteran itulah, Pierre memiliki wajah
rupawan. Sebenarnya, sang ayah menginginkan Pierre menjadi insinyur. Namun,
sejak duduk di kelas atas SMA Bagian B di Semarang, Pierre memutuskan untuk
mendaftar sebagai tentara. Ia akhirnya memilih mendaftar ke Atekad di Bandung
pada 1958 dan diterima sebagai taruna angkatan VI.
Pierre saat SMA (foto:
ixiaviridi.blogspot.com)
Sejak menjadi taruna, Pierre termasuk menonjol. Terutama di
bidang olahraga. Ia aktif sebagai pemain inti di first team basket dan
tenis taruna Atekad. Kulitnya yang putih bersih dan wajah tampan, Pierre pernah
mendapat julukan Si Ganteng dari Bumi Panorama. Bahkan, para pengidolanya dari
kalangan remaja perempuan di Bumi Priangan menjuluki Pierre sebagai Robert
Wagner dari Panorama.
Ketampannya memang terkenal di kalangan taruna, juga para
gadis-gadis Kota Kembang. Saat dilantik menjadi perwira pertama berpangkat
letnan dua (letda) czi pada 1961, Pierre langsung ditugaskan di satuan tempur
zeni, sebagai komandan peleton Yon Zipur 2 Kodam II/Bukit Barisan. Pada 1965
Menko Hankam/Kepada Staf ABRI Jenderal A.H. Nasution memilih Pierre sebagai
ajudannya.
Sang pahlawan revolusi. (Sumber:
Kaskus.us)
Saat menjadi ajudan Pak Nas (sebutan akrab Jenderal
Nasution), Pierre tak kehilangan pesona di kalangan para gadis remaja, terutama
mahasiswa. Ketika Pak Nas berceramah, ada anekdot di kalangan mahasiswi waktu
itu, ”Telinga kami untuk Pak Nas, tapi mata kami untuk ajudannya.”
Sayang, takdir berkata lain. Pierre meninggal pada usia yang
masih muda, 26 tahun. Ia gugur setelah dibunuh gerombolan G 30 S yang berniat
menculik Jenderal Nasution. Pasukan Tjakrabirawa yang datang ke sana dipimpin
oleh Pratu Idris dan Jahurub. Kegaduhan itu menarik perhatian Pierre.
Para penculik mengira bahwa Pierre adalah Jenderal Nasution.
Karena itu, Pierre turut dibawa ke Lubang Buaya, Jakarta Timur, dan gugur di
sana bersama enam jenderal TNI-AD lainnya. Yakni, Letjen A. Yani, Mayjen
Soeprapto, Mayjen S. Parman, Mayjen Haryono M.T., Brigjen D.I. Pandjaitan, dan
Brigjen Soetojo Siswomihardjo.
Namun, keterangan bahwa penculik mengira Pierre sebagai
Nasution sempat diragukan. Pasalnya, kulit Pierre lebih putih dan wajahnya
masih muda. Dalam keterangan dari beberapa pelaku sejarah, ada analisis bahwa
sebenarnya gerombolan sudah mengaku salah menculik Pierre. Namun, ia akhirnya
tetap dibunuh. Pierre akhirnya ditetapkan presiden sebagai pahlawan revolusi
dan pangkatnya dinaikkan menjadi kapten anumerta.
Tragis. Pasalnya, Pierre sebenarnya berniat untuk menikah
dengan Rukmini binti Chaimin pada November 1965. Dia seorang gadis cantik yang
dikenal Pierre saat masih bertugas di Medan, Sumatera Utara.
Graha Pena, 13 April 2012
Diambil dari berbagai sumber______________________2014
>Sahabat Artikel Indonesia< Kaka Wock>>>>>
Minggu, 26 Januari 2014
Jumat, 17 Januari 2014
Kamis, 16 Januari 2014
BANJIR MANADO BERANGSUR SURUT, 13 TEWAS
BANJIR MANADO BERANGSUR SURUT,
13 TEWAS
Banjir yang menerjang Manado nyaris melumpuhkan aktivitas kota itu, Rabu (15/01).
Banjir
bandang yang menerjang sebagian besar Kota Manado, Sulawesi Utara, berangsur
surut pada Kamis (16/01) siang, namun ribuan orang korban banjir belum
tertangani dengan baik. Badan Nasional Penanggulangan Bencana, BNPB, menyatakan
13 orang tewas dan dua orang masih dinyatakan hilang Klik akibat banjir dan tanah longsor di Manado dan sekitarnya. Menurut PMI
Sulawesi Utara, evakuasi terhadap warga yang menjadi korban banjir dilanjutkan
pada Kamis ini, setelah upaya ini sempat terganggu pada Rabu (15/01) malam
akibat ketinggian dan arus air bah.
Banyak sekali pengungsi di beberapa titik, yang
menumpang sementara di masjid, hotel, gereja atau sekolah. Hari ini kita mulai
berencana menangani pengungsi," kata Komandan tim satuan penanganan
bencana, Sulut, Irwan Lalegit, Kamis (16/01) siang, kepada wartawan BBC
Indonesia, Heyder Affan, melalui telepon. "Banyak sekali pengungsi di
beberapa titik, yang menumpang sementara di masjid, hotel, gereja atau sekolah.
Hari ini kita mulai berencana menangani pengungsi."
Menurutnya, air bah yang nyaris melumpuhkan Kota
Manado pada Rabu kemarin, hari ini mulai surut sehingga jalur utama
transportasi di dalam Kota Manado sudah bisa dilalui kendaraan roda empat. "Jalur utama transportasi di Manado sudah
bisa dilalui. Di beberapa wilayah, kalau kemarin terendam sampai 3 meter,
sekarang tinggal kira-kira semata kaki," ungkapnya. Namun demikian, ada
beberapa wilayah di dalam Kota Manado yang masih terendam air sehingga
menyulitkan evakuasi bagi korban. "Misalnya Kampung Arab dan Merdeka yang
dekat dengan sungai," kata Irwan.
Jalur
transportasi yang menghubungkan Manado-Tomohon juga masih terputus.
"Akibat dua titik tanah longsor," kata Irwan Lalegit.
13 orang tewas
Sementara, menurut Badan Nasional Penanggulangan
Bencana, BNPB, jumlah korban tewas akibat banjir di Manado dan sekitarnya
bertambah menjadi 13 orang. Banjir di Manado di beberapa wilayah mencapai
ketinggian empat meter. Dua orang dinyatakan hilang dan 40 ribu orang
mengungsi, kata Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo
Nugroho dalam keterangan kepada media, Kamis (16/01) Menurut BNPB, banjir ini terjadi di enam
kabupaten/kota yaitu Manado, Minahasa Utara, Kota Tomohon, Minahasa, Minahasa
Selatan, dan Kepulauan Sangihe. Korban tewas tercatat berada di Manado lima
orang, di Tomohon lima orang dan Minahasa ada tiga orang," kata Sutopo.
Menurut Sutopo, hujan deras di wilayah Sulawesi Utara
dipicu sistem tekanan rendah di perairan selatan Filipina yang menyebabkan
pembentukan awan intensif. Sebagian sungai di Manado meluap dan menenggelamkan
ribuan rumah. Selain itu, menurutnya banjir ini terjadi akibat adanya
konvergensi dampak dari tekanan rendah di utara Australia. Sehingga awan-awan
besar masuk ke wilayah Sulut," katanya. Bencana kali ini lebih besar
daripada sebelumnya yang pernah terjadi pada tahun 2000 yang menyebabkan 22
tewas, dan Februari 2013 yang menyebabkan 17 tewas," imbuhnya. BPBD Sulut
dibantu personel TNI, Polri, SAR dan relawan lainnya masih melakukan evakuasi
terhadap warga.
<<<BBC>>>
Jumat, 13 Desember 2013
Langganan:
Postingan (Atom)




